Tari Mahambak
Tari Mahambak adalah salah satu seni tradisional Bantik —
sebuah anak suku yang memiliki banyak kekhasan. Seni tari yang menjadi
sarana pengungkapan perasaan
komunal orang Bantik.
Dengan terpencarnya mereka ke dalam sejumlah pusat pemukiman pemukiman —
antaranya di Malalayang (arah tenggara dari Manado),
Molas
(di utara Manado), Ongkaw dan Boyong (di Minahasa Selatan) dan
lain-lain — mereka amat saling merindu. Perjumpaan, persatuan dan
kerukunan menjadi
nilai-nilai yang sangat dirayakan serta dijunjung setingginya oleh orang Bantik dari generasi ke generasi.
Nilai-nilai persatuan dan kerukunan itu tercermin sangat
jelasnya dalam bait-bait syair yang dinyanyikan dalam Tari Mahambak.
Syair-syair yang digubah para leluhur,
yang karena
di zaman dulu itu masih sangat terbatas sarana perhubungan dan apalagi
telekomunikasi, sehingga mereka menghayati keterpencaran komunitas
mereka sebagai masalah sangat besar, mencemaskan, membahayakan, dan amat menyedihkan.
Arti harfiah mahambak ialah begembira dan bersukacita.
Bergembira menyambut perjumpaan dan persatuan. Tari mahambak kemudian
menjadi bagian dari setiap upacara atau perayaan yang membahagiakan,
seperti “naik rumah baru”, panen hasil bumi yang
melimpah, dan
lain-lain.
-Tari Maengket
Maengket adalah paduan dari sekaligus seni tari, musik dan
nyanyi, serta seni sastra yang terukir dalam lirik lagu yang
dilantunkan. Sejumlah pengamat kesenian bahkan
melihat
maengket sebagai satu bentuk khas sendratari berpadu opera. Apapun,
maengket memang merupakan sebuah adikarya kebudayaan puncak yang
tercipta melalui proses panjang penyempurnaan demi penyempurnaan.
Maengket sudah ada di tanah Minahasa sejak rakyat Minahasa
mengenal pertanian terutama menanam padi di ladang. Kalau dulu nenek
moyang Minahasa,
maengket hanya dimainkan pada waktu
panen padi dengan gerakan-gerakan yang hanya sederhana, maka sekarang
tarian maengket telah berkembang teristimewa bentuk dan tarinya tanpa
meninggalkan keasliannya terutama syair/sastra lagunya.
Maengket terdiri dari 3 babak, yaitu :
– Maowey Kamberu
– Marambak – Lalayaan. Maowey Kamberu adalah
suatu tarian yang dibawakan pada acara pengucapan syukur
kepada Tuhan yang Maha Esa, dimana hasil pertanian terutama tanaman padi
yang berlipat ganda/banyak. Marambak adalah tarian dengan semangat
kegotong-royongan (mapalus), rakyat Minahasa bantu membantu membuat
rumah yang baru. Selesai rumah dibangun maka diadakan pesta naik rumah
baru atau dalam bahasa daerah disebut “rumambak” atau menguji kekuatan
rumah baru dan semua masyarakat kampung diundang dalam pengucapan
syukur. Lalayaan adalah tari yang dilakukan saat bulan purnama
Mahatambulelenen, para muda-mudi melangsungkan acara Makaria’an —
mencari teman hidup.
-Tari Kabasaran
Kabasaran adalah tari perang. Mengangkat atau memuliakan
perang ke dalam karya estetika, itu memberi gambaran tentang masyarakat
itu sendiri. Itu ungkapan dari watak dan nilai-nilai budaya masyarakat.
Ya, berperang memang diluhurkan sebagai krida sangat mulia
bagi masyarakat yang gagah berani serta kokoh membela kebenaran dan
keadilan. Dr. A.B.Meyer, seeorang peneliti sosio-budaya masyarakat
Minahasa, dalam sebuah laporannya sampai menarik kesimpulan: Perang
adalah bagian dalam format kebudayaan Minahasa lama!
Seni Tari Kabasaran pun mengabadikan ritual yang di masa lampau memang dilaksanakan
leluhur
tou Minahasa setiap kali mereka hendak berperang. Tari Kabasaran
sedemikian akrab dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Minahasa lama.
Tarian keprajuritan ini menyemarakkan hampir semua upacara dalam daur
hidup manusia. Mulai dari kelahiran, mengusir roh-roh jahat, perkawinan,
hingga pemakaman orang mati. Demikian pula untuk penjemputan dan
pengawalan secara adat bagi petinggi pemerintahan ataupun tokoh
masyarakat. Juga dalam mengantar para pekerja Mapalus menuju tempat
kerja
-Tari Maselai
Mesalai adalah salah satu jenis tarian tradisional yang berasal dari Provinsi Sulawesi Utara.
Kesenian yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Kepulauan Sangihe
Talaud ini dahulu merupakan bagian dari suatu upacara ritual sebagai
perwujudan rasa syukur kepada Genggona Langi Duatung Saluruang (Tuhan
Yang Maha Tinggi Penguasa Alam Semesta) atas segala anugerah yang telah
diberikan-Nya. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan masuknya
agama-agama baru, tari mesalai saat ini juga digunakan sebagai pelengkap
upacara adat dan syukuran, seperti: khitanan, perkawinan, mendirikan
rumah baru, peresmian perahu baru dan lain sebagainya.
sumber: https://indraboham.wordpress.com/2012/11/26/tari-daerah-sulawesi-utara-2/




Tidak ada komentar:
Posting Komentar